Jumat, 19 September 2008

Tugas 1 - Bentuk, Fungsi dan Design Kacamata

Cerita tentang kacamata dimulai dari kaisar Nero. Nero kaisar Roma yang memerintah sejak tahun 54 sampai 68 merupakan kaisar yang paling nyeleneh. Ia mendandani kudanya dengan pakaian manusia, suka berjalan-jalan keliling kota sambil bernyanyi dan menari dimalam hari. Ia menonton setiap pertunjukan dengan memegang sebuah batu permata cekung dan berwarna di depan matanya.
Para ahli sejarah memperkirakan kaisar Nero memang bermata minus. Dengan melihat melalui sebuah permata tidak hanya membuat kelihatan lebih menarik, tapi juga membantu kaisar yang kecil dan lucu itu untuk melihat dengan lebih baik.
Orang-orang Cina mungkin orang pertama di dunia yang mengenakan kaca mata seperti yang dikenakan sekarang ini. Biasanya kaca mata itu terdiri dari dua lensa sangat besar berbentuk oval yang terbuat dari kristal batu. Bingkainya terbuat dari tempurung kura-kura. Untuk memegang kacanya agar bisa bertengger di hidung digunakan 2 kawat yang diberi pemberat yang dicantelkan ditelinga.
Awalnya kacamata ini dipakai dipercayai karena membawa keberuntungan, kelihatan menarik, dan kelihatan seperti orang penting bahkan kadang mereka pakai bingkai kosong tanpa kristalnya
Kacamata dikenal di Eropa sekitar abad ketiga belas. Lensa terbuat dari batu-kristal atau batu transparan. Umumnya mereka mengenakan kaca mata agar bisa melihat dengan baik. Semula bentuknya seperti kaca pembesar yang dipegang tangan, kemudian diberi gagang yang dicantolkan pada telinga.
Di Eropa, selama bertrahun-tahun setelah ditemukan kaca mata, para dokter masih mencemoohkan penggunaannya. Kebanyakan waktu itu para dokter percaya bahwa memakai kacamata berbahaya. Mereka mengatakan bahwa penglihatan yang buruk harus diobati dangan salep atau losion, sedangkan pemakaian kaca mata hanya akan merusak penglihatan. Namun akhirnya kaca mata ini bisa diterima sebagai alat bantu untuk kesehatan dan dipakai hingga sekarang. Pada tahun 1784 Benyamin Franklin menemukan kaca mata bifokal, yaitu kacamata yang dapat digunakan untuk melihat dari jauh maupun dari dekat..

Kacamata modern

Kacamata model lama

Kacamata adalah sebuah alat yang terbuat dari rangkat yang menyangga lensa, biasanya digunakan untuk membantu penglihatan atau melindungai mata dan juga untuk gaya . Kacamata khusus digunakan untuk melihat gambar tiga-dimensi dari tampilan dua-dimensi.

Kacamata modern biasanya memiliki alas di bagian hidung. Kacamata dahulu termasuk pince-nez, monocle, dan lorgnette.

Dahulunya lensa terbuat dari gelas, tetapi sekarang ini banyak terbuat dari berbagai macam plastik, termasuk CR-39 atau polycarbonate. Bahan tersebut dapat mengurangi bahaya pecahnya gelas dan beratnya gelas. Beberapa jenis plastik juga memiliki sifat optik yang lebih handal dari gelas, seperti penerusan cahaya tampak yang lebih baik dan penyerapan cahaya ultraviolet yang lebih baik.

Sejarah kacamata sama tuanya dengan sejarah manusia. Kacamata tercipta dari usaha manusia menemukan misteri di balik penglihatan mereka. Di jaman prasejarah, telah dikenal kelainan “presbyopia” di kalangan pemburu. Karena penyebab dan penyembuhannya tak dikenal, mereka mencari jawabnya di dunia supranatural dan ‘tahyul’.

Kaca ditemukan th 3000 SM, tapi lensa kaca baru dikenal th 800 SM. Sebelumnya, orang Yunani menggunakan bola kaca diisi air dan diletakkan di atas obyek yang akan dilihat, atau batu kwarsa. Kaisar Nero, dari Romawi menggunakan cincin “emerald” untuk membantu memperbaiki penglihatannya.

Tahun 800an, orang Cina membuat alat pembesar berbingkai dari kristal batu karang, kwarsa atau “beryl”. Tahun 1000, kaca pembesar, disebut “Batu Pembaca” mulai dikenal di Eropa, berbentuk bola kaca yang diletakkan di atas benda yang akan dilihat.

Tahun 1268, Roger Bacon, pendeta dan ilmuwan Inggris, menemukan kacamata baca. Tahun 1275, Marcopolo, petualang Italia ke Cina, menemukan orang Cina telah mempergunakan kacamata yang digantungkan di atas telinga.

Di Eropa kacamata mulai dikenal th 1284 di Itali oleh Salvino D’armate, pendeta dan seniman. Namun sekitar th 1300, perkembangannya terhambat oleh gerakan anti kacamata, “The Guild of Venetian Crystal workers”, yang mengharamkan kacamata:

“Nobody in the said guild of crystal workers shall dare to buy, or cause to be bought, or sell, or cause to be sold, any work of colourless glass which counterfeits crystal, for example, buttons, handles, disks for small barrels and for the eyes.

Tahun 1500 ditemukan kacamata untuk “myopia”, yang juga dipakai Paus Leo X. Saat itu kacamata mulai banyak dijual di jalan-jalan, di mana pada kacamata itu tertera goresan angka yang menunjukkan usia pemakainya.

Th 1700, kacamata menjadi simbol kebangsawanan. Berawal dari raja Philip V, permaisuri dan 500 pengawal wanitanya, yang menggunakan kacamata dari kulit penyu, kacamata menjadi mode di kalangan menengah atas di Spanyol.

Th 1760, Benjamin Franklin menciptakan kacamata bifokal, berupa perpaduan dua lensa yang ditempelkan bagian atas dan bawah begitu saja. Ini adalah awal perkembangan lensa bifokal dan multifokal.

Th 1790 kaca mulai digunakan sebagai lensa dan Venice (Itali) serta Nuremburg (Jerman) tumbuh sebagai pusat penggosokan lensa kaca yang amat terkenal. Perubahan ini diikuti oleh perubahan disain frame. Dari “monocle”, lensa tunggal yang ditempelkan di depan bahan bacaan dan pengguna kacamata menempelkan matanya sambil memicingkan mata yang sebelah dan “lorgnettes”, kacamata berbentuk gagang panjang yang dipegang dengan satu tangan dan ditempelkan pada mata untuk membaca, tahun 1800 diketemukan “oxfords”, di Perancis disebut “Pince-nez” atau “Pinch Nose”, yaitu kacamata dengan alat penyangga yang dijepitkan di hidung. Termasuk pemakai kacamata ini adalah President Theodore D Rossevelt dari AS.

Th 1826, John Isaac Hawkins, penemu, pemusik dan insinyur, menemukan lensa trifocal untuk melihat dekat, menengah dan jauh. Dan th 1884-1908 ditemukan teknologi yang menyempurnakan bifocal temuan Benyamin Franklin, menjadi bifokal dalam 1 kepingan atau “one-piece bifocals”. Tahun-tahun tersebut ditandai dengan penemuan kacamata mendekati bentuknya seperti sekarang: kacamata dengan bingkai melingkari kepala, ditambah “temples”. Kacamata mulai mempergunakan gagang menempel di kiri kanan kepala. Th 1880, mulai dikenal kacamata dalam bentuk modern, gagang melengkung dan pas menempel di daun telinga kiri dan kanan.

Akhir th 1800, lensa spheris mulai dikenal untuk mengatasi “astigmatism” atau kelainan silendris. Tahun 1938, ditemukan lensa kontak, terdiri dari lapisan film tipis dan dipasang mengambang di permukaan kornea mata di bawah bulu mata tanpa bingkai kacamata. Lensa ini mendorong revolusi di dunia selebritis: aktor-aktor merubah warna mata mereka menggunakan lensa kontak.

Tahun 1970 ditemukan bahan plastik, CR 39, sebagai pengganti kaca. Penemuan ini merubah pandangan orang terhadap kacamata. Kebutuhan massal akan kacamata memunculkan ribuan jenis frame dan jenis lensa kacamata baru, yaitu “one-hour superstores grind lenses”, lensa jadi atau siap pakai. Orang tidak perlu lagi menunggu lama untuk membeli kacamata. Mereka tinggal menentukan ukuran lensa, memilih bingkai yang sesuai, dan satu jam kemudian kacamata itu siap pakai..

Kemajuan teknologi lensa terus berlanjut dengan ditemukannya bahan paling liat di dunia, “EYAS” oleh Hoya, Jepang. Penemuan ini menimbulkan revolusi di bidang frame dengan diciptakannya frame tanpa rangka atau rimless frames. Untuk pemasangannya, lensa harus dibor baik dari bidang datar lensa maupun dari sisi samping, dan untuk itu diperlukan lensa yang liat dan kuat, yaitu EYAS dari Hoya.

Dari sisi disain, muncul generasi baru lensa aspherik, yang diciptakan oleh Mohamad Jalie, “guru” optik warganegara Inggris asal India . Lensa aspherik adalah lensa yang salah satu atau kedua permukaannya tidak berbentuk dinding bola. Lensa ini paling baik untuk ukuran positif karena lensa tampak sangat tipis. Tahun 1980an, lensa ini disempurnakan oleh Dr Erning Wihardjo, M.Eng., M.S.Eng., kini President Director PT ALPI, distributor lensa HOYA, menjadi lensa Nulux.

Perkembangan bahan lensa berlanjut dengan ditemukannya ‘TESLALID” tahun 1998, juga oleh Hoya Jepang. Dengan indeks bias tertinggi di dunia, 1.71. Dengan demikian teslalid merupakan bahan yang paling cocok untuk lensa minus tinggi > 6. Dengan bahan ini lensa yang berukuran tinggi tetap terlihat tipis seperti lensa ukuran rendah.

Semua perkembangan ini akhirnya menuju pada satu tujuan: penciptaan lensa kacamata yang memenuhi 3 syarat: kekuatan dan kenyamanan lensa plastik, kekukuhan dan ketajaman lensa kaca daKacamata dan Gaya Hidup

KACAMATA saat ini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya model dan tipe kacamata yang sangat beragam.

Tetapi tahukah Anda siapa orang yang pertama kali memperkenalkan kacamata? Dia adalah George Airy, yakni seorang astronomer Inggris yang pertama kali memakai Lensa kaca pada tahun 1827 sebagai pengoreksi pandangan.

Sebelum tahun tersebut kacamata sudah mulai ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti yang dijepitkan di batang hidung, kacamata satu gagang, yang diikat di kepala dan sebagainya, sedangkan kacamata yang disangkutkan ke telinga (spectacles) ditemukan pada tahun 1727 oleh optiker (ngarang istilah) Inggris, Edward Scarlett.

Seluruh dunia saat ini telah mengenal kacamata termasuk Indonesia , kondisi Indonesia yang beriklim tropis memberikan waktu bagi matahari untuk lebih banyak beredar. Kini sudah tidak lagi aneh melihat para pejalan kaki menggunakan kacamata matahari, bila sebelumnya pemakai kacamata matahari identik dengan pengendara kendaraan bermotor atau para turis dilokasi wisata.

Namun, sebelum Anda memutuskan untuk mengikuti gaya hidup ini, maka sebaiknya simak ulasan berikut mengenai tiga hal penting berkacamata.

Model yang beragam juga membuka peluang bagi para penggemar kacamata matahari untuk menambah koleksinya mulai yang murah meriah sampai yang fancy dan mahal. Model apapun yang Anda pilih sebaiknya ingat beberapa pokok hal berikut :

1. Kesehatan

Pilih dan gunakan kacamata yang bisa memberikan perlindungan kesehatan, terutama bagi sepasang bola mata Anda yang berharga.

2. Keamanan

Mampu memberikan kenyamanan saat berkendara terutama di siang hari, agar terhindar dari kecelakaan lalulintas karena pantulan-pantulan yang menyilaukan dari kendaraan lain. Juga jangan lupa untuk mengenakan model yang tidak merepotkan Anda sendiri dan bukan justru mempersempit pandangan.

3. Penampilan dan Kegunaan

Beberapa jenis kacamata memang didisain untuk dikenakan para olahragawan, seperti pada olahaga voli pantai atau ski es. Sepasang kacamata oakley tentu cocok untuk mereka yang beraktifitas di luar ruang dan bergerak aktif, namun belum tentu cocok dan elegan untuk mereka yang berada dibalik kemudi sedan. Menambah koleksi memang menyenangkan, dan sepasang kacamata baru bukan pengecualian. Murah belum tentu berkualitas, jadi tergantung mana yang Anda inginkan, apakah sekedar peneduh mata atau pelindung mata?

Manfaat Kacamata

Memang dulu kacamata matahari identik dengan warna hitam atau coklat tua. Tapi kini seiring dengan perkembangan mode, sudah cukup banyak rangkaian warna yang ditawarkan untuk sepasang kacamata matahari, yang dulu sekedar disebut kacamata hitam. Saat Anda berkendara atau saat matahari begitu terik, perlengkapan yang satu ini tentu mendukung kenyamanan Anda.

Sepasang kacamata matahari akan memberikan keteduhan bagi mata Anda. Tapi jangan salah untuk memilih kacamata hitam yang baik memang tidak mudah, bahkan tidak murah. Tentu ada bedanya sepasang kacamata yang berharga Rp 10.000 dengan yang berharga jutaan rupiah, sekalipun yang berharga jutaan rupiah itu belum tentu jauh lebih baik tapi biasanya menang dimerek. Kacamata untuk baik untuk menangkal silaunya sengat matahari sebaiknya memiliki kemampuan melindungi mata dari:

1. Ultraviolet, yang bisa merusak kornea dan retina mata. Kacamata hitam yang baik baik lagi kalau mampu menangkal secara menyeluruh agar menghindari mata dari resiko kebutaan dini.

2. Cahaya Terang yang bila mengekspos bagian mata secara berlebihan bisa merusak retina, contohnya pantulan matahari pada bodi mobil. Kacamata yang baik harus mampu menahan 97 persen dari cahaya terang.

3. Kilau, seperti pantulan matahari pada permukaan air. Biasanya kacamata yang baik telah dipolarisasi lebih dahulu agar bisa mengilangkan efek kilau yang bisa mengganggu pandangan.

4. Frekuensi Cahaya, yang pada kondisi tertentu membuat pemandangan menjadi kabur. Pada beberapa model kacamata matahari terdapat beberapa alternatif warna yang bisa meredam cahaya ini.

Beberapa penelitian mengingkatkan radiasi sinar ultraviolet (UV) dapat menyebabkan katarak dan kemunduran fungsi mata seperti yang dialami lansia. Nah, memakai kacamata hitam adalah cara paling mudah untuk melindungi mata dari bahaya radiasi sinar matahari. Tak perlu mahal ketika membeli sepasang kacamata hitam, perhatikan tipe-tipe yang sesuai dengan keperluan anda:

? Untuk pemakaian sehari-hari, cobalah lensa kacamata berwarna "ringan" yang dapat menghalangi 70 persen UVB, 20 persen UVA dan 60 persen cahaya yang masuk. Kacamata ini dikelompokkan ke kacamata tipe kosmetik.

? Untuk keperluan rekreasi di luar ruangan seperti misalnya saat tour, jalan-jalan di taman, window shopping, pilih lensa kacamata berwarna sedang dan agak gelap. Kacamata jenis ini dapat menghalangi 95 persen UV B, 60 persen UV A dan 60-90 persen cahaya. Kaca mata jenis ini dikelompokkan ke kaca mata normal. Sebagian besar kacamata yang masuk dalam kategori ini.

? Untuk keadaan yang sangat terang, ketika anda menghabiskan liburan dengan pergi ke pantai, menikmati sunset, bermain watersport (olahraga rekreasi pantai), pilihlah kacamata berwarna sangat gelap, dengan penghalang sinar UV. Pada label kacamata ini harusnya tertulis dapat menghalangi 99 persen UV B, 60 persen UV A dan 97 persen cahaya. Kacamata jenis ini dikelompokkan ke tipe kacamata dengan keperluan khusus. (sindo//nsa) n kemampuan memperbaiki penglihatan manusia.